PROFIL MASJID AN-NUR BANYUBIRU



Sejarah singkat

Masjid An-Nur Desa Banyubiru, Negara, Jembrana, Bali berdiri pada tahun 1947 M. Sebelum masjid berdiri, kegiatan rutin dalam bulan-bulan penting kalender hijriyah seperti peringatan satu  Muharram, Saffar, Maulid Nabi, Isro Mi’raj, Nisfu Sya’ban kegiatan tarawih dalam bulan suci Ramadhan dan shalat dua hari raya, bertempat di rumah pribadi Ahmad Wak Juriah. Kegiatan ceramah memperingati hari-hari penting itu mendatangkan guru agama (muallim) dari Negara. 

Nama-nama seperti Tuan Guru Abdurrahman, Datuk Guru Muhammad Nuh, KH.Sayyid Ali Bafaqih, KH. Ahmad bin Dahlan pernah menjadi pengisi acara ceramah agama dalam kegiatan tersebut. Selain pada peringatan dalam bulan-bulan penting itu, adalah Datuk Guru Muhammad Nuh menjadi pengisi acara pengajian rutin yang diadakan satu kali dalam setiap minggu. Untuk keperluan kegiatan pengajian mingguan ini didirikan bangunan seukuran 4x5 meter di atas tanah milih Ahmad Wak Juriah.

 Dua tahun berikutnya, dua bersaudara; Rukiyah dan Usman Ikrar (leluhur dari keluarga Bapak Suaib) mewakafkan sebidang tanah untuk pendirian masjid. Di atas tanah wakaf itu didirikan bangunan untuk keperluan kegiatan keagamaan. Bangunan sederhana berukuran 5x9 meter itu terbuat dari tiang bambu dengan atap anyaman daun kelapa dan dinding dari bedek berlantai tanah dengan alas tikar. 

Bangunan sederhana cikal bakal masjid ini diresmikan oleh Datuk Guru Muhammad Nuh. Pengurus cikal bakal bangunan masjid ini antara lain; Rusdi, M.Zais, Jimun, Ahmad Wak Juriah, Wak Murdai dan Hamzah.

Atas petunjuk dari Datuk Guru pulalah di tempat ini dilaksanakan kegiatan ritual shalat Jumat. Shalat Jumat pertama dilaksanakan dalam tahun 1947 M. dengan Datuk Guru Muhammad Nuh bertindak selaku khatib dan Imron sebagai muezzin. Pada shalat jumat seterusnya, bertindak selaku khatib yakni Ahmad sampai tahun 1950.

Dalam tahun 1950-an bangunan sederhana itu kemudian dipugar menjadi bangunan semi permanen dengan tiang kayu jati, atap genting, berdinding tembok dan lantai semen seluas 7x7 meter. Pengurus masjid (dulu dikenal dengan nama Masjid Jati karena berlokasi di Kampung Jati) adalah; H. Saifullah, Ahmad Wak Juriah, M.Zais, Buhari, Ahmad Wak Hasanah, Rusdi, Wak Murdai dan Imron.

Pada tahun 1957 datanglah seorang guru keturunan Arab dari klan Al-Haddad bernama Sayyid Syeckh Al-Haddad, atau biasa dipanggil Ami Syeckh. Ia menikah dengan putri dari Bapak Ahmad Wak Juriah dan bermukim di kampung Jati. Dialah guru yang banyak mendidik anak-anak kampung Jati dalam bidang ilmu-ilmu agama terutama pendidikan Al-Quran hingga tahun 1960-an. Dari tangan Ami Syeckh Al-Haddad, lahir anak-anak muda terdidik yang meneruskan pendidikan mereka ke luar kampung, hingga ke luar pulau.

Para murid didikan Ami Syeckh Al-Haddad yang kemudian meneruskan kepengurusan Masjid Jati. Mereka adalah; H. Ibrahim selaku ketua, H. Zainuddin sebagai sekretaris, Sur Ali sebagai bendahara. Jahari dibantu Ahmad dan Zainal Arifin selaku imam rawatib.

Pada tanggal 16 Juni 1976, musibah gempa bumi yang melanda Bali berimbas pada rusaknya sebagian tembok masjid dan merobohkan bangunan tempat wudlu’. Panitia pelaksana rehab pasca-gempa membuat kebijakan untuk merehab ulang bangunan masjid. Biaya renovasi pasca gempa diperoleh dari pemerintah sebesar Rp. 100.000 ditambah iuran swadaya terkumpul sebanyak Rp. 150.000. Selain itu, penggalian dana dilakukan dengan jalan dana wajib setiap jumat, beras jumputan satu sendok makan, arisan kelompok dengan potongan 10 persen.

Dalam tahun 1978 pada sebuah pertemuan panitia pembangunan masjid se Kabupaten Jembrana bertempat di ruang pertemuan kantor agama, panitia pembangunan Masjid Jati mendapat teguran karena belum ada nama khusus untuk masjid kampung Jati selain sebutan “Masjid Jati”.  Atas teguran ini, kemudian panitia pembangunan Masjid Jati sepakat memberi nama: Masjid An-Nur. 
Masjid An-Nur Banyubiru Negara, tampak dari depan / foto dokumen Takmir Masjid An-Nur


Pada tanggal 25 Oktober 1980, bangunan lama Masjid An-Nur sisa gempa dirobohkan sebelum sempat direnovasi. Mengingat dana yang terkumpul dari masyarakat yang lumayan banyak, maka diputuskanlah kebijakan untuk membangun dari awal fisik masjid An-Nur.

Pada hari Minggu 10 November 1980 selepas apel Hari Pahlawan, sekitar jam 9.30 pagi, diselenggarakan peletakkan batu pertama pembangunan fisik Masjid An-Nur. Peletakan batu pertama dihadiri Kasi Bimas Islam Kabupaten Jembrana, Bapak Ramelan, didampingi Perbekel Desa Banyubiru, H. Ibrahim dan Kepala Dusun Banyubiru, Nyoman Dandra.

Pada tahun 1986, bangunan fisik masjid An-Nur rampung seratus persen. Bangunan kali ini dilengkapi fasilitas tempat wudlu, kamar mandi (WC)  yang memadai, serta sebuah podium tempat pembacaan khutbah.

Masjid An-Nur terletak di sisi utara jalan raya nasional Denpasar-Gilimanuk. Letaknya yang strategis menjadikan masjid ini sebagai situs transit atau tempat persinggahan para pengendara terutama rombongan bus wisata antar provinsi. Ratusan jamaah rombongan bus wisata antar provinsi terkadang menyinggahi Masjid An-Nur untuk keperluan melaksanakan ibadah, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan.
Atas inisiatif Bapak Adi Waluyo, dilakukan perombakan tata ruang menyangkut fasilitas fungsional seperti peniadaan taman di pinggir jalan raya yang dialih fungsikan sebagai tempat parkir kendaraan yang dapat menampung hingga empat bus wisata.

Pada tanggal 25 Februari 2011 (22 Rabiul Awal 1432 H.)  bangunan fisik masjid An-Nur yang berdiri dari tahun 1980 dan telah difungsikan selama sekitar 30 tahun itu dibongkar dan didirikan bangunan baru berlantai dua. Peletakan batu pertama pembangunan masjid dihadiri Habib Ali Zainal Abidin dari Banyuwangi.  Hingga saat ini, proses pembangunan fisik Masjid An-Nur baru merampungkan bagian bawah (lantai pertama), dan akan terus dilanjutkan pembangunan tahap berikutnya.
Proses pembangunan Masjid An-Nur lantai bawah / foto dokumen Takmir Masjid An-Nur


Panitia Pembangunan Masjid An-Nur
Penasehat                   : H. Moh. Basyar, H. Ibrahim, H. Zainuddin
Ketua                           : Muhammad Yahya Al-Habsyi 
Bendahara                  : H. Sur Ali
Seksi Penggalian Dana : Adi Waluyo, H. Ahmad Yahman, Ani Fatayani, Ahmad Nasrullah  

Comments

Popular Posts